Magelang – Kue moho, jajanan tradisional khas Jawa Tengah, menjadi primadona menjelang Imlek. Kue ini tak hanya lezat, tapi juga sarat makna.
“Kalau kue moho mekar seperti kembang. Artinya supaya rezeki kita selalu berkembang. Itu semakin banyak, semakin banyak,” ungkap Gunawan Wakil Ketua Harian TITD Liong Hok Bio Magelang.
Di Dusun Dawung, Mertoyudan, Magelang, keluarga Darmanto telah puluhan tahun memproduksi kue moho secara tradisional. Proses pembuatannya cukup rumit, dimulai dari meracik adonan tepung dan tape singkong hingga mengukusnya.

Produksi kue moho ini dilakukan setiap hari, tidak hanya saat menjelang Imlek saja. Setiap hari Manto mengolah 2 sak tepung atau 50 kilogram.
Tiap menjelang Imlek, kue moho bikinan warga Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang laris manis. “Setiap menjelang Imlek pesanan meningkat drastis. Pembelinya dari berbagai daerah, seperti Jogja dan Temanggung,” ujar Darmanto.
Selain rasanya yang manis legit, bentuk kue moho yang merekah juga menjadi simbol harapan akan rezeki yang melimpah. Tak heran jika kue ini menjadi sajian wajib saat sembahyang di kelenteng.