Jakarta, Politika – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana mengambil alih Gaza dan menjadikannya “Riviera Timur Tengah”. Rencana ini menimbulkan kontroversi di kalangan pakar.
“Ide ini telah memecah belah banyak pihak. Ada yang menyebutnya sebagai ‘ide terburuk’ yang tidak akan berhasil, sementara yang lain melihatnya sebagai taktik negosiasi yang cerdas,” tulis Asia Times dalam laporannya minggu lalu.
Sebagian pihak menduga rencana ini hanyalah kedok untuk menguasai sumber daya energi di Gaza. Bloomberg melalui kolumnis energi dan komoditasnya, Javier Blas, bahkan menyindir bahwa pernyataan Trump mungkin berkaitan dengan gas alam di wilayah tersebut.
Gaza Marine Field diketahui memiliki cadangan gas alam sekitar 1 triliun kaki kubik. Jumlah ini cukup untuk memasok listrik ke wilayah Palestina selama bertahun-tahun dan bahkan memiliki potensi untuk diekspor. Namun, bagi AS, angka tersebut tergolong kecil jika dibandingkan dengan total cadangan gas terbukti mereka yang mencapai 691 triliun kaki kubik pada akhir 2022.
Brenda Shaffer, pakar energi dari Foundation for Defense of Democracies (FDD), berpendapat bahwa potensi gas di Gaza tidak cukup besar untuk menarik perhatian AS. “Dari 1 triliun kaki kubik gas alam, itu sebenarnya tidak banyak. Jika dibandingkan dengan konsumsi harian AS, jumlah ini sangat kecil,” ujar Shaffer, dikutip dari Newsweek, Senin (10/2/2025).
Meski demikian, Gaza Marine Field tetap memiliki nilai strategis. Selain dapat memenuhi kebutuhan listrik di Gaza selama 10 hingga 15 tahun, gas ini juga berpotensi membantu Mesir yang tengah mengalami krisis energi. Namun, kendala utama dalam pengembangannya adalah biaya besar yang diperlukan untuk eksplorasi dan produksi.
Shaffer menambahkan bahwa pengembangan sumber daya ini juga bisa meringankan beban Israel, yang sebelum perang memasok sekitar setengah kebutuhan listrik Gaza. “Pembangunan Gaza Marine Field akan mengurangi ketergantungan Gaza pada Israel dan membantu stabilitas energi di wilayah tersebut,” jelasnya.
Pekan lalu, Trump mengusulkan agar AS mengambil alih Gaza serta merelokasi penduduk Palestina ke Mesir atau Yordania. Ia juga menyatakan bahwa rencana ini bertujuan untuk menghilangkan ancaman kelompok militan Hamas dan menciptakan stabilitas di kawasan. Namun, negara-negara Timur Tengah langsung menolak gagasan tersebut mentah-mentah.
Meskipun mendapat banyak penolakan, Trump tetap bersikeras dengan rencananya. Kini, pertanyaan besarnya adalah, apakah langkah ini benar-benar bertujuan untuk menciptakan kedamaian, atau hanya strategi terselubung untuk menguasai sumber daya berharga Gaza?