Berita

Makna Mendalam di Balik Lagu ‘Mangu’: Cinta, Perbedaan Keyakinan, dan Perjuangan Hidup

×

Makna Mendalam di Balik Lagu ‘Mangu’: Cinta, Perbedaan Keyakinan, dan Perjuangan Hidup

Sebarkan artikel ini
Lagu Mangu - Fourtwnty (sumber: Youtube Fourtwnty Music)

Lagu “Mangu” yang dibawakan oleh Fourtwnty bersama Charita Utamy dirilis pada tahun 2023. Judul lagu ini diambil dari kata “Mangu,” yang berasal dari bahasa Jawa, yang berarti kebimbangan atau ketidakpastian dalam membuat keputusan. Lagu ini menjadi sangat viral di media sosial karena liriknya yang cocok dengan perasaan galau generasi masa kini. Lagu ini diciptakan dengan tujuan untuk menggambarkan perasaan orang-orang yang sedang menjalin hubungan dengan perbedaan keyakinan.

Lirik lagu ini secara khusus menggambarkan hubungan antara seorang Muslim dan non-Muslim, seperti yang terlihat pada bait “Kau menggenggam kumengadahnya.” Lagu ini mempertanyakan apakah hubungan tersebut bisa berlanjut ke jenjang yang lebih serius, meski sejak awal sudah ada perbedaan keyakinan. Hal ini ditegaskan dengan lirik “Tak lagi sama cara berdo’a & Tak lagi sama arah kiblatnya.” Lagu ini ingin mengingatkan mereka yang menjalani hubungan dengan perbedaan keyakinan bahwa tanpa keputusan yang jelas, hubungan mereka bisa berakhir sia-sia.

Namun, dalam lirik “Siapa yang tau siapa yang mau,” lagu ini juga mencerminkan kenyataan bahwa banyak orang yang merasa nyaman satu sama lain tanpa mengharapkan adanya perbedaan keyakinan. Lirik “Berdamai dengan apa yang terjadi, kunci dari semua masalah ini” mengajak mereka untuk menerima kenyataan dan berusaha ikhlas dengan jalan yang diambil. “Ini soal hati bukan yang diyakini” menunjukkan bahwa banyak orang tetap melanjutkan hubungan meski berbeda keyakinan, karena cinta dan saling mendukung.

Menjalani hubungan dengan perbedaan keyakinan memang penuh tantangan, karena jika hubungan tersebut berlanjut, salah satu pihak harus rela mengalah dan berpindah keyakinan. Hal ini terasa berat, sebagaimana yang tercermin dalam lirik “Jujur tak mudah melangkah pergi.” Mereka yang ingin tetap bersama terkadang terhalang oleh tembok yang tinggi, dan mereka hanya bisa meratapi nasib dengan lirik “Ego dan air mata yang berbicara.”

Ketidakselarasan hubungan ini tergambar dalam lirik “Kau di sana aku diseberangmu,” yang mencerminkan jarak dan perbedaan langkah yang dihadapi. Saat beribadah, mereka hanya bisa saling memandang tanpa bisa melakukannya bersama, sebuah kenyataan yang menyakitkan, tercermin dalam lirik “Bacaan dan do’a yang mulai berbeda.” Meskipun doa mereka berbeda, tujuannya tetap sama, yakni kepada Tuhan.

Lagu ini memang ditujukan bagi mereka yang berada dalam hubungan dengan perbedaan keyakinan, tetapi maknanya juga sangat relevan bagi siapa saja yang merasa lelah dengan kehidupan. Lirik “Gila tak masuk logika, tertekun hatiku” menggambarkan perasaan orang yang sedang terperangkap dalam kehidupan yang penuh kejutan dan ketidakpastian.

Banyak orang yang mendengarkan lagu ini merasa tersentuh dan meneteskan air mata karena liriknya yang begitu mendalam dan menyentuh hati. Lagu ini menggambarkan kenyataan hidup yang penuh dengan tantangan dan perasaan lemah yang tak selalu tampak di luar. Terkadang, seseorang merasa terperangkap dalam masalah tanpa ada yang bisa membantu. Lagu ini mengingatkan kita untuk tetap kuat dan tegar meski harus menghadapi masalah sendiri, namun tetap menunjukkan kebahagiaan di hadapan orang lain.

Dengan segala makna yang tersirat, “Mangu” menjadi salah satu lagu favorit yang banyak didengarkan oleh mereka yang tengah merasa tertekan oleh masalah hidup, tetapi harus tetap terlihat kuat di luar. Lagu ini menyentuh mereka yang merasa kesepian di titik terendah dan melampiaskan emosi melalui tangisan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *