Jakarta, Politika – Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Israel membatalkan kesepakatan gencatan senjata jika Hamas tidak segera membebaskan para sandera pada 15 Februari.
“Menurut saya, jika semua sandera tak dikembalikan pada Sabtu pukul 12.00, saya akan katakan, batalkan saja dan biarkan kekacauan terjadi,” ujar Trump kepada awak media di Ruang Oval pada Senin (10/2), dikutip dari CNN.
Saat ditanya lebih lanjut mengenai bentuk kekacauan yang dimaksud, Trump enggan menjelaskan. “Anda akan tahu, mereka akan tahu. Hamas akan tahu maksud saya,” katanya tanpa memberikan detail lebih lanjut.
Sejak awal masa kepemimpinannya, Trump telah meragukan keberlangsungan gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Ia bahkan mengusulkan pengusiran warga Gaza secara permanen dan menyatakan bahwa Amerika Serikat harus mengambil kendali atas wilayah tersebut.
Sementara itu, Hamas mengumumkan bahwa pembebasan sandera yang dijadwalkan pada 15 Februari akan ditunda. Juru bicara sayap militer Hamas, Brigade Al Qassam, Abu Ubaida, menyebut bahwa keputusan tersebut diambil karena Israel dianggap telah melanggar kesepakatan gencatan senjata.
“Para sandera tetap berada di tempatnya sampai entitas pendudukan [Israel] mematuhi kewajiban masa lalu dan memberikan kompensasi secara retroaktif,” kata Ubaida, dikutip dari Al Jazeera, Senin (10/2).
Hamas menuduh Israel melakukan berbagai pelanggaran dalam perjanjian gencatan senjata, termasuk menunda pemulangan pengungsi ke Gaza Utara, menargetkan warga dengan tembakan, serta menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan.
Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku sejak 19 Januari. Perjanjian ini mencakup pertukaran tahanan dan sandera, penarikan pasukan Israel dari Gaza, serta peningkatan jumlah bantuan kemanusiaan ke wilayah yang terdampak konflik.
Sejak kesepakatan tersebut diterapkan, Israel dan Hamas telah lima kali melakukan pertukaran tahanan. Sebanyak 21 warga Israel dibebaskan, sementara lebih dari 730 warga Palestina dilepaskan.
Gencatan senjata ini terjadi setelah Israel melancarkan serangan ke Palestina sejak Oktober 2023. Hingga kini, agresi tersebut telah menewaskan lebih dari 48.000 orang.