Berita

Rem Blong Bukan Satu-satunya Penyebab! Ini Fakta di Balik Kecelakaan Tol Ciawi

×

Rem Blong Bukan Satu-satunya Penyebab! Ini Fakta di Balik Kecelakaan Tol Ciawi

Sebarkan artikel ini
Rem Blong Bukan Satu-satunya Penyebab! Ini Fakta di Balik Kecelakaan Tol Ciawi
Rem Blong Bukan Satu-satunya Penyebab! Ini Fakta di Balik Kecelakaan Tol Ciawi

Jakarta, Politika – Kecelakaan di gerbang Tol Ciawi tidak bisa disalahkan hanya pada satu pihak, seperti sopir truk yang mengalami rem blong.

Pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio, menegaskan bahwa insiden ini melibatkan banyak faktor dan menjadi tanggung jawab bersama. “Terjadinya korban yang sangat banyak seperti pada kecelakaan di gerbang tol Ciawi bisa dihindari jika semua pihak mematuhi regulasi yang ada,” ujarnya, Selasa (5/2/2025).

Agus menjelaskan, kecelakaan ini tidak hanya disebabkan oleh rem blong, tetapi juga karena antrean kendaraan di pintu tol akibat kartu e-Toll salah satu pengendara yang tidak dapat digunakan. Hal ini memperparah dampak tabrakan, menyebabkan lebih banyak korban. Oleh karena itu, ia mengingatkan para pengendara untuk selalu memastikan saldo kartu e-Toll sebelum berkendara, mengingat sistem tol saat ini tidak lagi memiliki petugas di gerbang.

Selain faktor pengguna jalan, Agus juga menyoroti peran regulator yang dinilai kurang optimal dalam menjalankan tugasnya. Ia mencontohkan penggunaan kamera Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) untuk menangkap pelanggaran lalu lintas yang kini tidak lagi terdengar perkembangannya. Selain itu, implementasi sistem On Board Unit (OBU) yang sempat digunakan untuk membaca perjalanan kendaraan di gerbang tol juga dihentikan tanpa kejelasan. Sistem ini kemudian digantikan oleh Multi Lane Free Flow (MLFF) berbasis teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS) dari Hongaria, namun hingga kini belum berjalan efektif.

Pembangunan gerbang tol yang tidak dirancang dengan baik juga menjadi perhatian. Agus menilai banyak gerbang tol yang posisinya terlalu berbelok, sehingga sulit dilalui oleh kendaraan besar seperti truk. Ia mengaku telah menyampaikan hal ini kepada operator tol, namun pembangunannya sering kali terkendala masalah lahan dan perencanaan yang kurang matang.

Selain itu, kurangnya pelatihan bagi sopir truk juga menjadi faktor penyebab kecelakaan. Menurut Agus, seharusnya Kementerian Perhubungan dan Dinas Perhubungan bertanggung jawab dalam memberikan pelatihan serta sertifikasi kepada para pengemudi agar mereka lebih terampil dan siap dalam menghadapi berbagai kondisi di jalan.

Dengan berbagai faktor penyebab kecelakaan ini, Agus berharap ada evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang. Semua pihak, baik pemerintah, operator tol, maupun pengendara, harus lebih disiplin dan mematuhi aturan demi keselamatan bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *