Berita

Gas Elpiji 3 Kg Langka dan Mahal di Semarang, Warga Menjerit!

×

Gas Elpiji 3 Kg Langka dan Mahal di Semarang, Warga Menjerit!

Sebarkan artikel ini
Agen Gas di Jalan Gajah Raya, Kecamatan Gayamsari. Kota Semarang. Minggu (31/1/20225) (FOTO: ADIT/Politika)

Politika – Kabar buruk menghampiri warga Kota Semarang, Jawa Tengah. Gas elpiji 3 kilogram (kg) yang merupakan kebutuhan pokok sehari-hari, mulai langka di pasaran. Tak hanya itu, harga gas melon ini juga melonjak naik, menambah penderitaan masyarakat yang sudah kesulitan mencari.

Kelangkaan gas elpiji 3 kg ini sudah dirasakan warga dalam dua hari terakhir. Mereka harus berkeliling mencari ke warung-warung, pengecer, hingga agen, namun hasilnya nihil.

“Sudah dua hari ini saya mencari gas 3 kg, tapi tidak ada. Semua tempat sudah saya datangi, tapi kosong,” keluh Ihsan, seorang warga Semarang yang sehari-harinya berjualan gorengan.

Keresahan warga semakin bertambah setelah pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan kebijakan larangan penjualan gas elpiji 3 kg di warung pengecer mulai 1 Februari 2025. Kebijakan ini bertujuan untuk menata ulang distribusi gas elpiji 3 kg agar lebih tepat sasaran. Namun, bagi warga, kebijakan ini justru menyulitkan mereka.

“Saya tahu ada kebijakan baru ini, tapi saya kurang setuju. Saya biasa beli gas di warung dekat rumah, sekarang harus cari ke tempat lain yang lebih jauh,” ujar Siti Handayani, pemilik warung klontong di Semarang. Siti mengaku harus menempuh jarak hingga 3 kilometer untuk mendapatkan gas elpiji 3 kg.

Selain langka, harga gas elpiji 3 kg juga mengalami kenaikan yang signifikan. Jika sebelumnya harga gas melon ini sekitar Rp 22.000 per tabung, kini harganya mencapai Rp 25.000 per tabung. Kenaikan harga ini tentu memberatkan masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan rendah.

“Gas 3 kg sekarang langka dan harganya naik. Warga banyak yang resah karena sulit mendapatkannya,” kata Siti. Ia berharap pemerintah segera turun tangan mengatasi masalah ini agar masyarakat tidak lagi kesulitan dalam mendapatkan gas elpiji 3 kg.

Sementara itu, Bambang, pemilik warung pengecer gas elpiji, mengaku mengalami kerugian akibat kebijakan larangan menjual gas elpiji 3 kg di warung pengecer. Meskipun warungnya hanya mendapatkan pasokan terbatas, yakni 10 tabung per minggu, dia tetap merugi karena sering kali stok gas tidak tersedia.

“Kalau dibilang rugi, pasti. Meski warung hanya mendapat jatah terbatas, tetap saja ada kerugian. Ibaratnya, sepuluh porsi hilang begitu saja,” kata Bambang. Ia berharap pemerintah memberikan solusi yang adil bagi para pengecer gas elpiji 3 kg.

Kelangkaan dan kenaikan harga gas elpiji 3 kg ini menjadi masalah serius yang harus segera ditangani oleh pemerintah. Masyarakat berharap pemerintah dapat mencari solusi yang efektif dan efisien agar kebutuhan gas elpiji 3 kg dapat terpenuhi dengan harga yang terjangkau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *