Keuangan

Bitcoin dan Pasar Kripto Mengalami Penurunan Tajam, Kapitalisasi Global Tergerus 7,61%

×

Bitcoin dan Pasar Kripto Mengalami Penurunan Tajam, Kapitalisasi Global Tergerus 7,61%

Sebarkan artikel ini
Foto : Harga Bircoin hari ini. (tangkapan layar Trading view)

Politika – Pasar kripto mengalami penurunan tajam dalam 24 jam terakhir, dengan harga Bitcoin jatuh signifikan menjadi US$ 91.000. Penurunan ini dipicu oleh ketidakpastian makroekonomi dan aksi jual besar-besaran yang melanda pasar kripto serta saham di Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data dari CoinMarketCap, pada Selasa (25/2/2025) pukul 07.20 WIB, kapitalisasi pasar kripto global anjlok 7,61%, mencapai angka US$ 2,95 triliun. Bitcoin (BTC), yang merupakan kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, tercatat turun 4,83% dalam 24 jam terakhir, dengan harga berada di kisaran US$ 91.719 per koin (sekitar Rp 1,49 miliar berdasarkan kurs Rp 16.275).

Ethereum (ETH) juga mengalami penurunan signifikan sebesar 11,54%, menjadi US$ 2.512 per koin, sedangkan Binance Coin (BNB) turun 6,03%, mencapai harga US$ 617 per koin.

Menurut laporan CoinDesk, tekanan pada Bitcoin semakin besar, akibat ketidakpastian Makroekonomi dan aksi jual masif di pasar kripto serta saham AS. Pemulihan pasar saham AS yang diharapkan pada Senin sore gagal terjadi, dengan indeks Nasdaq turun 1,2% dan S&P 500 melemah 0,5%. Kejadian ini semakin menambah ketidakpastian di kalangan investor kripto yang sebelumnya berharap adanya pemulihan pasar dalam waktu dekat.

Quinn Thompson, pendiri hedge fund kripto Lekker Capital, memperingatkan bahwa harga Bitcoin yang berada di sekitar US$ 95.000 masih dianggap sebagai titik keluar yang baik bagi investor jangka pendek. Berdasarkan analisisnya, ada kemungkinan sebesar 80% bahwa Bitcoin tidak akan mencapai harga tertinggi baru dalam tiga bulan ke depan, dan 51% kemungkinan tidak akan mencapainya dalam 12 bulan.

Sementara itu, Neil Dutta, Kepala Riset Ekonomi di Renaissance Macro Research, mengungkapkan tanda-tanda perlambatan ekonomi AS. Beberapa indikator yang perlu diperhatikan meliputi pendapatan riil yang melambat, pasar perumahan yang melemah, dan pengurangan belanja oleh pemerintah negara bagian dan lokal. Meskipun perkiraan median pertumbuhan PDB AS masih sekitar 2,5%, yang menunjukkan bahwa pasar belum melihat dampak perlambatan ekonomi yang signifikan, Dutta memperingatkan bahwa risiko terbesar bagi investor adalah pengetatan kebijakan moneter, yang dapat menyebabkan pemangkasan suku bunga jangka panjang, penurunan minat terhadap aset berisiko, serta penurunan kondisi pasar tenaga kerja.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *