Jakarta, Politika – Setelah dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memperkenalkan kebijakan baru, termasuk gencatan senjata di Gaza yang diharapkan mampu meredakan ketegangan geopolitik global.
“Gencatan senjata ini memang bisa mendinginkan situasi global, tetapi belum cukup untuk memulihkan ekonomi dunia yang masih rapuh,” ujar Abdul Manap Pulungan, Ekonom dari Center of Macroeconomics & Finance Indef, Minggu (25/1/2025).
Abdul menjelaskan, meskipun langkah tersebut membawa optimisme, ekonomi global tetap menghadapi tantangan besar. Proyeksi IMF menunjukkan pertumbuhan ekonomi global tahun 2025 hanya mencapai 3,3%, sementara Amerika Serikat dan China diperkirakan melambat masing-masing menjadi 2,7% dan 4,6%. Selain itu, pengangguran tinggi, tingginya suku bunga kredit, serta perlambatan perdagangan global yang diprediksi hanya tumbuh 3,2% menjadi faktor penghambat pemulihan ekonomi.
Abdul juga menyoroti ketegangan geopolitik, termasuk konflik antara Amerika Serikat, China, Rusia, dan Uni Eropa, serta isu-isu seperti Taiwan-China dan Korea Selatan-Korea Utara. Menurutnya, ketidakpastian global masih menjadi tantangan utama bagi stabilitas ekonomi dunia.
Namun, di tengah situasi ini, sektor-sektor tertentu masih menunjukkan peluang. Abdul menyebut sektor pertanian, komoditas, dan ekonomi hijau sebagai area yang berpotensi berkembang. Ia mendorong Indonesia untuk memaksimalkan hilirisasi demi mendapatkan nilai tambah yang lebih optimal.
Dari sudut pandang domestik, Co-founder Tumbuh Makna (TMB), Benny Sufami, melihat peluang positif di sektor saham dan obligasi jangka menengah hingga panjang. “Awal tahun 2025 menunjukkan perbaikan, meski baru tahap awal. Investor dapat memanfaatkan momentum ini,” jelasnya.
Benny menambahkan, penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia sebesar 0,25% menjadi 5,75% dapat memberikan dorongan bagi sektor properti, otomotif, dan perbankan. Penurunan ini mencerminkan inflasi yang rendah dan memberikan ruang bagi peningkatan konsumsi publik serta penyaluran kredit.
Untuk memanfaatkan peluang ini, Benny menyarankan prinsip 2L, yakni Logis dan Legal. Logis berarti keputusan investasi harus berdasarkan analisis rasional, sementara Legal memastikan kepatuhan terhadap regulasi. Dengan prinsip ini, investor dapat membangun portofolio yang kokoh dan berkelanjutan.