Share This Story !

Tia Kamala (20th), memulai study from home sejak 16 Maret 2020.

BEKASI – Jelang Ujian Tengah Semester (UTS) di berbagai perguruan tinggi, banyak mahasiswa khawatir mendapat nilai buruk. Sebab, sejak Pandemi Covid-19 berlangsung, terjadi perubahan methode belajar, yakni mahasiswa menerima mata kuliah melalui whatsapp grup dan percakapan lewat aplikasi video yang disinyalir lebih rumit diserap mahasiswa.

Cara belajar tersebut, dikatakan Tia Kamala, salah seorang mahasiswi Universitas Dharma Persada Jakarta Timur, memiliki banyak kendala, diantaranya kesulitan memahami materi dan cara menyelesaikan tugas yang diberikan yakni berupa presentase melalui video.

“Cenderung agak rumit sih materi yang dikasih, karena kita harus memahami sendiri. Beda jika kita belajar langsung, disana kita bisa bertanya kepada dosen dan langsung diberi penjelasan,” ungkap Tia saat ditemui di kediamannya, di Kelurahan Jakasetia Kecamatan Bekasi Selatan, Senin (6/4/2020).

Dia mencontohkan, salah satu tugas yang harus diselesaikan hari ini, adalah mata kuliah Prilaku Konsumen yang harus disetorkan maksimal pukul 18.00 Wib, melalui portal akademik.

“Untuk mata kuliah ini gak terlalu rumit, karena semua sudah dibahas sewaktu masih masuk kampus. Kita cukup membuat makalah dan mempresentasekannya dengan membuat video kelompok,” ungkapnya.

Mahasiswi Fakultas Ekonomi ini berpendapat, tenaga pengajar atau dosen, dapat menyelaraskan materi yang disampaikan kepada mahasiswa dan mahasiswi agar lebih mudah dipahami. Apalagi, beberapa waktu ke depan akan dilakukan UTS.

“Ya intinya dosen bisa memberikan materi sesuai dengan methode belajar sekarang. Karena tatap muka dengan cara sekarang sangat jauh perbedaan dan hasilnya,” pungkas gadis berusia 20 tahun ini.

Hal senada diungkapkan Fiqih Adiyatussalam. Mahasiswa Institut Bisnis Muhammadiyah (IBM) Bekasi ini menilai cara belajar di rumah kurang efektif. Sebab, mahasiswa kerap kesulitan memahami materi yang diberikan, sehingga membutuhkan ruang untuk tanya jawab.

“Saya kadang kurang paham tugas yang diberikan dosen melalui grup whatsapp. Kita sulit untuk menyerap maknanya, meski saat kita tanya di grup lalu dosen menerangkannya, tetap saja berbeda lah sama belajar langsung di kampus,” ucap Fiqih saat dihubungi.

Selain itu, Fiqih membeberkan kendala yang dihadapi mahasiswa saat melakukan video langsung dengan dosen, diantaranya sinyal yang buruk serta kuota internet mahasiswa yang tidak mencukupi.

“Kadang susah sinyal karena musimnya juga masih sering hujan, terus juga gak semua mahasiswa memiliki kuota internet yang mencukupi. Ini problem yang harus juga diketahui oleh dosen dan pihak perguruan tinggi,” ucapnya.

Fiqih yang kini duduk di semester VI malam ini, mengungkapkan bahwa beberapa waktu ke depan ia akan memasuki masa Ujian Tengah Semester. Dia mengaku khawatir dengan perubahan cara belajar akan berpengaruh terhadap nilai yang diperoleh mahasiswa.

“Apalagi menjelang UTS, jadi kalau nilai yang tidak memuaskan atau kurang bagus, wajar saja, dosen harus memahami mahasiswa,” kata Fiqih berharap, wabah Corona cepat selesai, sehingga seluruh mahasiswa dapat kembali belajar di kampus.

“Ya inginnya Corona cepat selesai agar kita bisa kembali belajar di kampus. Kan kita bisa silaturahmi kembali dengan dosen dan teman-teman disana,” imbuhnya. (mhn)

By Politika

https://youtu.be/ok4Pu43LmVU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *